Dokter Muda #part one

Sudah lama rasanya tidak menulis di blog ini. Terlantar, ya memang seperti itulah keadaannya. Sejak menjadi dokter muda di rumah sakit dr. Hasan Sadikin, waktu saya lebih banyak dihabiskan di lingkungan rumah sakit dibanding surfing di internet buat menulis blog.

Apa menjadi seorang dokter muda terlalu sibuk? Jujur saya berkata tidak. Ya, asalkan semua dijalani dengan tulus. Jika dilihat dari segi tenaga, waktu dan perhitungan ekonomi, memang menjadi dokter muda di suatu rumah sakit pendidikan pemerintah tidaklah mudah dan menguntungkan. Walaupun kami adalah lulusan sarjana kedokteran, yang kedudukannya hampir sama  dengan sarjana dari fakultas lain, setelah lulus sarjana, kami harus menjalani suatu tahap lagi sebelum menjadi the real doctor  yaitu, sebagai dokter muda atau lebih dikenal dengan istilah koas. Bekerja di rumah sakit pemerintah, tetap membayar uang kuliah, dan bekerja tanpa digaji. Waktu yang kami habiskan di rumah sakit bisa 24 jam bahkan lebih (ini tergantung bagian mana yang sedang dijalani).

Sebagai koass kami sudah boleh mengerjakan segala sesuatu yang dikerjakan oleh seorang dokter, tapi dibawah supervisi seorang konsulen. berhadapan dengan pasien, menanyakan riwayat penyakit, menegakkan diagnosa, membuat resep obat, dan melakukan prosedur terapi lainnya sudah bisa kami kerjakan.

Satu kata yang ingin saya ungkapkan “menyenangkan”. Walaupun waktu, tenaga sungguh tersita, tapi saya sangat senang jika berhadapan dengan pasien. Saya sangat senang apabila pasien datang, kemudian menceritakan keluhannya. Dari berbagai macam keluhan, kita sudah harus bisa mengarahkan ke suatu diagonsa penyakit tertentu, walaupun penyakit tersebut kadang tidak bisa berdiri tunggal, bahkan bisa hampir serupa dengan penyakit lainnnya. Tapi disinilah letak science and art of medicine. Bukan suatu ilmu pasti, tapi kepastian suatu penyakit mutlak untuk diketahui, jika tidak terapi penyakit akan sulit untuk dimulai.

Tertantang?Yup, sangat tertantang. Dari bermacam manusia, berbagai macam penyakit yang ada di dunia dan tertera dalam textbook kita harus dalam waktu singkat menyaringnya sehingga suatu diagnosa dapat ditegakkan. Betapa cepatnya otak harus dipaksa berpikir.

Tidak hanya otak yang dipaksa berpikir cepat, tapi juga kesigapan dan tindakan yang diperlukan juga harus dilakukan dalam langkah cepat. Satu menit, bahkan satu detik itu sangatlah berharga. Satu nyawa bahkan lebih bisa diselamatkan, suatu kecacatan bisa dicegah, bahkan satu atau lebih nyawa bisa lahir dengan tangis bahagia dari semua keluarga, suatu perpisahan bisa ditunda, dan suatu perkara bisa diselesaikan. Mengagumkan.

Sungguh saya sangat bersyukur diarahkan oleh Allah berada di jalan ini. Banyak pelajaran hidup yang sangat berharga yang saya dapatkan. Betapa sehat, sakit, hidup, kecacatan dan kematian merupakan kuasa yang di Atas. Tidak ada satupun yang bisa mengubah apa yang ditakdirkannya, hanya, kita bisa berusaha melakukan yang terbaik. Tuhan lah yang menentukan apa yang terjadi selanjutnya.

Advertisements

One response to this post.

  1. Untung ada dokter muda, klw gk bisa repot…. terutama para dokter N residen gk bisa makan siang gara2 gk ada koas yg disuruh buat beli makan siang…….hehehe

    SEMANGAAAATTTTT……..!!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: